MaulanaJalaluddin Rumi, salah satu penyair-sufi terbesar dalam sejarah Islam, banyak menyebut puasa dalam puisi-puisinya. Dalam kitab Matsnawi, Rumi menulis tentang esensi puasa: Ketika mulut ini tertutup, maka akan terbukalah mulut lainnya/Untuk bersiap menerima jamuan-jamuan rahasia (Jilid III, bait 3747); Dan Kekuatan Jibril itu bukanlah dari dapur (Jilid III: bait 6).
mpnO. - Bulan suci Ramdhan, merupakan bulan yang telah dinantikan oleh umat muslim. Untuk menyambut bulan suci Ramadhan dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan berpuisi. Puisi dengan tema Ramadhan ini, dapat pula menjadi caption media sosial seperti Whatsaap, Instagram, hingga Facebook. Baca Juga Naskah Kultum Ramadhan Hari Kelima dengan Tema Meraih Seribu Bulan Dilansir oleh dari berbagai sumber, berikut puisi dengan tema bulan Ramadhan. 1. Ramadhan Di Kampung Bila Ramadhan tibaMeneteskan air mataSemua orang bergembiraMenyambut ibadah puasa. Orang sekampung berbahagiaMasjid-masjid bersih semuaDemi menyambut tamu muliaBulan Ramadhan yang penuh berkah. Baca Juga Resep Kalio Ayam untuk Hidangan Buka Puasa Ramadhan yang Sederhana dan Lezat
SUFISME atau tasawuf merupakan ajaran Islam yang di dalamnya mengandung teori dan praktik-praktik spiritual untuk membersihkan jiwa tazkiyah an-nafs, terutama dari nafsu yang berpotensi mendekatkan manusia pada keburukan. Tasawuf merupakan jalan rohani yang ditempuh melalui medium dan ritual tertentu sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah tasawuf banyak disampaikan dan ditulis dengan media/bahasa puisi. Misalnya, yang dilakukan oleh penyair-sufi Persia Maulana Jalaluddin Rumi dan penyair-sufi Aceh Syekh Hamzah Fansuri. Puisi sering dijadikan sebagai media ungkap kaum sufi. Sebab, segala bentuk keindahan diyakini dapat dijadikan sarana untuk menggapai pengalaman religius. Selain dengan puisi, musik dan tarian juga sering dijadikan media ekspresi dari perjalanan spiritual kaum tasawuf kaum sufi erat kaitannya dengan nilai-nilai kearifan dan kebaikan yang akan membawa manusia pada transformasi batin dan penyempurnaan rohani. Kandungan ajaran kaum sufi mencakup berbagai aspek dalam kehidupan, baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Mulai dari zikir, meninggalkan maksiat, menjaga akhlak, termasuk yang berkaitan dengan tema Jalaluddin Rumi, salah satu penyair-sufi terbesar dalam sejarah Islam, banyak menyebut puasa dalam puisi-puisinya. Dalam kitab Matsnawi, Rumi menulis tentang esensi puasa Ketika mulut ini tertutup, maka akan terbukalah mulut lainnya/Untuk bersiap menerima jamuan-jamuan rahasia Jilid III, bait 3747; Dan Kekuatan Jibril itu bukanlah dari dapur Jilid III bait 6.Ketika berpuasa, kita diwajibkan menutup mulut lahiriah kita tidak makan dan minum. Menurut Rumi, ketika mulut lahiriah kita tertutup, maka mulut batiniah kita akan terbuka. Dengan demikian, yang dimaksud Rumi sebagai jamuan-jamuan rahasia dalam puisi di atas adalah jamuan yang bersifat rohani, yang jauh lebih nikmat dari sekadar hidangan makan dan minum. Maka bagi Rumi, esensi puasa adalah untuk mencapai kashf, yaitu tersingkapnya hijab atau penghalang yang menutupi penglihatan batin manusia. Dengan berpuasa, mata batin dan kepekaan kita akan lebih terasah sehingga hikmah-hikmah tentang kehidupan akan lebih mudah kita peroleh. Dalam bait yang lain, Rumi menulis bahwa Kekuatan Jibril itu bukanlah dari dapur. Makna dari bait tersebut adalah bahwa untuk mendekati kehidupan malaikat, manusia harus menghindari dapur baca banyak makan, dengan kata lain harus berpuasa. Dalam khazanah tasawuf dikenal istilah alam malakut, yaitu alam yang dihuni oleh para malaikat dan an-nafs al-muthmainnah jiwa yang tenang—alam yang tingkat kedekatannya dengan Allah jauh lebih tinggi dari alam yang dihuni manusia. Bagi Rumi, dengan berpuasa, kita dapat mendekati alam malakut tersebut sehingga kita akan dapat mendekatkan diri kepada Maulana Jalaluddin Rumi, penyair-sufi asal Fansur Aceh yaitu Syekh Hamzah Fansuri juga banyak menulis tentang anjuran untuk berpuasa dan menjauhi hawa dalam puisi-puisinya. Dalam kitab Asrar al-’Arifin, Syekh Hamzah Fansuri menulis jangan bermaqam di ubun-ubun atau di pucuk hidung/ atau di antara kening atau di dalam jantung/ sekalian itu hijab kepada Dzat-Nya. Dan dalam bait yang lain beliau menegaskan hapuskan akal dan rasamu/ lenyapkan badan dan nyawamu/ pejamkan hendak kedua matamu/ sana kau lihat permai puisi-puisi Syekh Hamzah Fansuri, upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dicapai dengan cara melawan hawa nafsu, baik itu nafsu yang bermaqam di ubun-ubun pikiran liar/buruk maupun di pucuk hidung segala yang berkaitan dengan aroma, termasuk di dalamnya makanan dan minuman. Hal itu dipertegas dalam bait yang lain, yaitu hapuskan akal dan rasamu, yang merujuk pada pikiran buruk dan nafsu yang berkaitan dengan rasa seperti makan, minum, maupun seks. Sebab, hal-hal tersebut adalah penghalang untuk lebih dekat kepada Allah taqarrub ila Allah maupun upaya untuk mengetahui ”rahasia-rahasia” Allah makrifatullah. Dengan menjauhi hal-hal tersebut, maka akan ”kau lihat permai rupamu”, yaitu kita akan menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang jauh lebih elok, baik di mata Allah maupun di mata sesama puisi, bagi Rumi, berfungsi untuk mengolah rasa cinta orang yang mendengar atau membacanya. Maka ketika para penyair sufi menulis puisi tentang puasa, puisi-puisi dari para penyair sufi tersebut diharapkan dapat membangkitkan ilham pembaca melalui penafsiran rohaniahnya. Dengan begitu, para pembaca tergugah untuk menyelami esensi semoga dengan berpuasa, kita dapat mendekatkan diri kepada Allah dan kita dapat memetik berbagai hikmah dalam kehidupan. *Alumnus Ponpes Darud Dakwah, Ambunten Tengah, Sumenep, dan Ponpes Darul ’Ulum Peterongan, Jombang. Dosen filsafat Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, Semarang.
Jalaluddin Rumi Muhammad bin Husin al-Khattabi al-Balkhi, dilahirkan di Balkh tanggal 6 Rabi’ulawal 604 H/30 September 1207 M. Ayahnya bernama Bahauddin Walad seorang hakim yang memiliki garis keturunan sampai Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq—sahabat senior Nabi Muhammad sufi termasuk Rumi menyadari betul bahwa pengalaman spiritual itu tidak bisa ditransfer secara menyeluruh dengan bahasa sehari-hari, maka mereka lebih memilih menggunakan bahasa sandi atau bahasa simbol, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Junaid al-Baghdadi, “Ucapan kami para sufi adalah simbol dan isyarat”.Ibn Arabi di dalam Al-Futūẖāt memberikan penjelasan terkait kenapa para guru sufi memilih bahasa simbolis/isyarat saat membagi pengalaman spiritual mereka? Apa problem bahasa religius yang mereka hadapi? Serta apa dasar mereka memilih bahasa simbol/isyarat?Menurut Ibn Arabi, “Yang dilakukan oleh sahabat-sahabat kami—para guru sufi—yang lebih memilih untuk menggunakan bahasa isyarat itu atas dasar Al-Qur’an sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sayyidah Maryam saat berhadapan dengan para pendusta, Maryam menunjuk kepada bayinya bagaikan berkata, “Tanyalah anak ini Nabi Isa as., dia akan menjawab, dia akan menjelaskan kepada kamu duduk soalnya!”. Mereka kaumnya berkata “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Dia Nabi Isa putra Maryam., seketika itu masih bayi berkata “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Dia telah pasti akan memberiku al-Kitab Injil dan Dia telah pasti akan menjadikan aku seorang Nabi” QS. Maryam [19]29-30. Karena itu, ungkapan/perkataan sahabat-sahabat kami berupa bahasa simbol/isyarat-isyarat, walaupun sejatinya ungkapan mereka itu hakikatnya adalah tafsir dari Kitab Suci yang penuh dengan kemanfaatan. Walau pun demikian, mereka enggan menyebutnya sebagai penjelas tafsir. Dikarenakan, agar mereka terlindungi dari ancaman ulama fikih dan agar tidak mendapatkan tuduhan kafir dari atas dasar itu, Rumi menjadikan puisi sebagai sarana untuk menyampaikan ide mistiknya. Karyanya yang paling terkenal ialah Al-Mastnawi al-Maknawi, terdiri enam jilid yang memuat bait syair mistik dan 424 dengan puasa, di dalam salah satu syair mistiknya, Rumi berkataTahanlah bibirmu dari makan dan minum, bergegaslah menyambut hidangan syair yang lain Rumi berkataKetika kau kosongkan perutmu dari makanan, maka ia akan dipenuhi oleh perhiasan potongan syair di atas menunjukan, Rumi dengan tegas menjadikan puasa sebagai wasilah untuk melahap makanan rohani yang suci. Nyatanya demikian. Ketika perut kita terpenuhi oleh makanan-makanan jasadi efeknya menjadi lemas dan membuat daya analisis kita rendah atau tumpul serta syahwat bengis akan muncul dalam jiwa kita. Hal yang sama juga ketika pikiran kita fokus dengan hal-hal yang bersifat fisik/jasadi, maka kita secara tidak sadar telah menghijab diri kita untuk memikirkan dan mengakses pengetahuan spiritual yang amat dasyat itu. Berkenaan dengan ini, Yahya bin Mu’azd bernah berkata, “Lapar itu seperti cahaya, kenyang bagaikan api, dan syahwat itu diibaratkan kayu yang dapat dibakar yang apinya tidak akan mati sebelum membakar pemiliknya”.Imam al-Qusyairi guru sufi sebelum Rumi dalam Ar-Risālah, Bab Al-Jau’ wa Tark al-Syahwat mencatat Rasulullah teladan utama para sufi termasuk Rumi menjadikan puasa mengosongkan makanan merupakan aktivitas yang sering Anas bin Malik, dikisahkan, “Fatimah pernah membawakan potongan roti kepada Nabi. Singkat cerita, Nabi berkata kepada Fatimah, Potongan Roti ini adalah makanan pertama yang masuk ke perut ayahmu selama tiga hari'”.Estafet ritus puasa untuk dapat mengakses hidangan langit dan pengetahuan sejati dilanjutkan oleh para guru sufi lainnya. Imam al-Qusyairi melaporkan, Sahal al-Tustari bernah berkata, “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan kenyang untuk kemaksiatan dan kebodohan, dan menjadikan lapar untuk ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan”. Di dalam ucapan yang lainnya, Sahal al-Tustari berkata, “Jika aku lapar akan menjadi kuat dan jika ia makan ia menjadi lemah”.Imam Al-Qusyairi mencatat salah satu mutiara hikmah Syekh Muzhaffar ialah, “Lapar jika dibarengi dengan qana’ah, akan menjadi ladang pemikiran, sumber hikmah dan kehidupan cerdas, dan pelita hati“.Memaknai puasa seperti ini akan berdampak pada transformasi diri, sehingga setiap menjalani perjalanan kehidupan kita bisa menangkap pesan-pesan Tuhan yang terkandung di balik peristiwa yang kita alami. Dengan bercermin pada pandangan Rumi dan para guru sufi yang lainnya terkait puasa, akan membawa kita untuk lebih sigap lagi dalam mempersiapkan diri isti’dād dalam menangkap ilmu Tuhan yang begitu luas. Inilah renungan Maulana Jalaluddin Rumi terkait puasa yang memiliki kesamaan dengan para guru sufi sebelumnya. Sumber BacaanAbul Qāsim Abdul Karīm bin Hawāzin al-Qusyairī, Ar-Risālah al-Qusyairiyyah, diedit oleh Aẖmad Hāsyim al-Salamī, Beirut Dār al-Kutub Al-Ilmiyyah, al-Dīn Ibn Arabī, Al-Futūẖāt al-Makkiyyah, diedit oleh Aẖmad Syamsuddīn. Beirut Dār al-Kutub al-Ilmiyah, Ahmad, Ngaji Rumi Kitab Cinta dan Ayat-Ayat Sufistik, Bandung 2021.
puisi menjelang Ramadan . Gambar unsplash/Mangkuk indah penuh buah kurma melambangkan RamadhanBulan Ramadan sudah dekat, pasti kamu sangat bersemangat menyambutnya. Bulan istimewa yang hanya datang satu tahun sekali. Berikut ini kumpulan puisi menjelang Ramadan dengan arti mendalam sebagai refleksi untuk menyambut bulan Menjelang RamadanInilah 3 puisi menjelang ramadhan yang dikutip dari bukuHal-Hal Langit Kumpulan Puisi, Ramadhan. A, 2020 5 – 13.Bulan malam ini tertutup mendung, aku sudah lama menunggumuTahun lalu banyak hal kusesali, aku mengabaikanmu dengan mudahnyaPadahal kesempatan tidak datang dua kali, senangnya dapat menemui yang keduaMendung berubah menjadi gerimis, kudengar degupan jantungku semakin kencangBegini rasanya bertarung dengan waktu, ketika mataku samar-samar melihat bulan ituSelamat datang bulan Ramadan, aku tidak akan menyia-nyiakan setiap detik bersamamuPuisi dengan judul Bulan yang Kunantikan, memiliki dua arti tentang penyesalan dan kegembiraan. Penyesalan karena di tahun sebelumnya tidak maksimal dalam menjalani ibadah puasa. Namun, kabar gembira yang dinanti masih diberi kesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa di tahun yang tertera di bait ketiga, jika kesempatan tidak datang dua kali. Ditutup pada bait terakhir, saat menjalankan ibadah puasa nanti untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena di tahun ini juga banyak dari saudara sekitar yang sudah tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan pandemi datang semua terasa berbedaBegitupun bulan Ramadan datang dengan suasana baruKetika suara azan isya terdengar langkah kakiku bergerak menuju masjidBegitupun pandemi menghetikan langkahku yang hanya beribadah di rumahKetika suasana sore menjelang malam banyak orang menghampiri pedagangBegitu terdengar kabar adanya pandemi pedagang pun tidak muncul di pasarWalaupun ada perbedaan sebelum dan sesudah pandemiSemangatku tetap sama untuk menyambut bulan RamadanKarena menjalani puasa di bulan Ramadan bukan tentang perbedaan suasanaNamun apakah aku bisa lebih baik ibadahnya dibanding Ramadan sebelumnyaPuisi yang menceritakan keadaan bulan Ramadan, bagaimana sebelum dan saat pandemi covid-19. Tapi inti dari ibadah puasa di bulan Ramadan sendiri, bukan perkara suasananya yang berubah jadi sepi. Melainkan niat dan semangat dalam menjalankan ibadahnya, sehingga judul puisinya Niat dalam ingat dengan jelas bagaimana riuh suara tetangga membangunkan saurAku juga ingat anak-anak berlarian menuju masjid untuk makan takjil bersamaAku ingat orang-orang yang fokus menyimak ceramah sewaktu tarawihAku ingat sebelum tidur selalu melantunkan bacaan Al-QuranIngatan tentang bulan Ramadan membuatku tidak sabar bertemu dengannyaPuisi ini mengingatkan setiap orang bagaimana budaya Ramadan di Indonesia berlangsung. Kebersamaan lebih kuat dibandingkan bulan-bulan biasanya, semangat beribadah lebih kencang dari bulan-bulan sebelumnya. Begitulah istimewanya Ramadan, bulan yang mampu membawa ketenangan dan kegembiraan untuk orang-orang yang sedang 3 kumpulan puisi menjelang Ramadan di atas dapat menambah ketenangan dan semangat ketika menjalani puasa nanti ya!
Puisi Ramadhan dan Corona Singkat, Sedih, Menyentuh Hati Telah lama kita menunggu bulan Ramadhan. Mengenang kembali Kerinduan dan kesyahduan. Kita beribadah bersama keluarga, masyarakat, tetangga, Negara, Bahkan bersama orang-orang sedunia. Namun Ramadhan tahun ini agak berbeda. Di tengah melandanya virus Corona. Kita tidak lagi bisa bersama-sama berbuka, di masjid seperti biasanya. Akan tetapi kita beribadah di rumah masing-masing. Buka bersama keluarga, shalat tarawih di rumah saja, begitu tadarus dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kita akan selalu mengenang Ramadhan di tahun ini. Sebab manusia yang biasanya keluar rumah berjalan jalan, kini mereka harus tinggal di rumah masing-masing. Puisi Ramadhan Yang Kurindu Lama sudah aku menunggu Suasana Ramadhan yang begitu syahdu Mendekatkan diri kepada rabbul Izzati Sepanjang siang sepanjang hari. Bila magrib telah tiba Dan adzan telah berkumandang Di sanalah nikmat mulai terasa Seteguk air hilangkan dahaga. Bersama-sama buka puasa Bersama handai taulan dan keluarga Segenap jiwa merasa bahagia Atas nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tarawih Tadarus Di surau yang kecil itu Ketika masa kanak-kanak dahulu Di sana lah kami belajar Shalat Tarawih di bulan Ramadhan. Surau kecil begitu ramai Berkumpul semua tetangga Shalat tarawih berjamaah Rasa hati begitu damai. Jika tarawih telah selesai Berkumpul kami mengambil Alquran Duduk kami melantunkan satu juz hingga usai. Itulah kenangan dahulu Di surau kecil penuh kenangan Diterangi oleh lampu Lampu minyak cahaya Temaram. Puisi Ramadhan Di Kampung Bila Ramadhan tiba Meneteskan air mata Semua orang bergembira Menyambut ibadah puasa. Orang sekampung berbahagia Masjid-masjid bersih semua Demi menyambut tamu mulia Bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ramai masjid dan mushola Berkumpul ramai anak muda Datang lebih awal orang orang tua Untuk menikmati ibadah bulan puasa. Dari rumah terdengar lantunan Orang-orang yang membaca Alquran Seluruh kampung mendapat keberkahan Dengan datangnya Bulan Ramadhan. Ramadhan dan Corona Tahun ini tahun yang berbeda Walau Ramadhan telah tiba Semua karena virus Corona Yang sedang melanda seantero dunia. Masjid-masjid lebih sepi Orang-orang mengurung diri Beribadah di dalam rumah Agar korona tidak tersebar ke mana-mana. Mari kita berdiam diri Jangan sembarangan pergi pergi Sebab corona bisa menyakiti Siapa saja di negeri ini. Banyak Berdoa Di Bulan Ramadhan Jangan tinggalkan puasa Ramadhan Walaupun apa yang terjadi Ini adalah kesempatan Untuk kita perbaiki diri. Tinggalkan segala maksiat Jangan pernah diteruskan Supaya jangan kita tersesat Buka lembar dosa terjerumuskan. Walau banyak salah dan dosa Datanglah kita kepada-Nya Memohon ampunan Dari segala kesalahan Banyak-banyak kita berdoa Untuk dunia dan akhirat kita Semoga kita diberi kemudahan dalam ibadah dan kehidupan. Puisi Larangan Mudik Pemerintah telah menetapkan bahwa pada tahun ini masyarakat dilarang mudik. Terutama mereka yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, seperti Bekasi, Depok, Bogor. Hal tersebut bertujuan agar mata rantai virus korona dapat diputus. Tentunya larangan ini merupakan sesuatu yang menyedihkan. Karena sebagian kita tidak bisa berkumpul lagi dengan keluarga yang ada di kampung. . . Tak Bisa Pulang Kampung Gagal sudah semua rencana Pulang kampung di bulan puasa Untuk menemui orang tua Memberi hadiah kepada saudara-saudara. Sedih di hati mulai terasa Menitik pula air mata Dengan saudara tak bisa bersua Padahal rindu menggebu di dalam dada. Kalau pulang kampung dipaksakan Akan tersebar virus corona Mata rantai tak terputuskan Pandemic Corona tak sudah-sudah. Jangan Mudik Saudara-saudaraku yang di rantau Tentu engkau dilanda rindu Pada suasana desa Kampung tempat lahirmu. Kami juga sudah rindu Lama rasanya tak bertemu Tapi tahan lada terlebih dahulu Sebab korona belum berlalu. Kalau aturan tak diindahkan Virus Corona makin tersebar Sudah banyak kematian Harap engkau memilih sabar. Jangan engkau mudik dahulu Sebelum virus Corona berlalu Begitulah cara kita menjaga Orang-orang yang kita cinta. Puisi Ramadhan Yang Sedih Ramadhan telah datang lagi Tak terasa setahun telah berlalu Duduk termenung di hari ini Rupanya telah tua usiaku. Belum banyak amal ibadah Yang kupersembahkan kepada-Nya Ku terima segala nikmat-Nya Sedangkan aku mengirimkan dosa. Bulan suci Ramadhan Janji di hati untuk berubah Kepadanya aku memohon Mengampuni segala salah. Khilaf dan Dosa Ya Allah Ramadhan-Mu telah kembali Mengapa jiwaku yang begitu sepi Tertutupi debu-debu dosa Dipenuhi nafsu angkara murka. Diantara milyaran manusia Inilah aku seorang hamba Yang berjalan tertatih-tatih Menujumu walaupun sedih. Aku tahu Engkau penyayang Namun diriku mengabaikan Aku tahu azab yang Pedih Namun diriku sibuk dengan dunia ini. Ampunilah dosa-dosaku Khilaf dan dosa yang menggunung Kepada siapa lagi aku mengadu Aku tersesat hatiku bingung. Pada-Mu jua aku kembali Meletakkan segala Harapan Perih hati karena dosa Yang kuharap adalah ampunan. Ramadhan Harapan Ketika senja telah tiba Ramadhan berkah mulai menyapa menjadi sebuah harapan tuk segenap, seluruh insan. Letih sudah jiwa ini Menapaki hari-hari Bergelimang dengan dosa Membuat jiwa penuh nestapa. Kuatkan diriku untuk hijrah Tancapkan keyakinan pada diri hamba tentang janjimu yang Engkau sampaikan. Bahwa betapapun aku berdosa Kan kau berikan ampunan. Harapan Tuk Berbagi Maaf Bulan suci telah datang Keberkahan telah menjelang Ketika senja memerah Di situlah awal bulan puasa. Dari hati yang paling dalam Kami sekeluarga mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan Kepada saudara mohon kemaafan. Mari sambut bulan yang suci Bersihkan diri dari iri dengki Ganti dengan kasih sayang Kepada sesama kita mendoakan. Kumpulan Puisi Ramadhan 2020 Menyambut bulan Ramadhan, dan tentunya gembira. Inilah bulan di mana dibuka pintu surga. Alangkah betapa mereka yang berbuat dosa, tak merasakan nikmatnya bulan mulia. Janganlah kita angkuh. Bukankah sebentar lagi kejayaan kita akan runtuh? Berikut ini puisi dengan berbagai tema di bulan orang Ramadhan. Semoga dengan puisi ini akan menambah semangat beribadah. . . Inilah Hamba-Mu Ya Allah Inilah hambaMu datang kembali Dengan jiwa yang penuh luka Dipenuhi dengan debu-debu dosa. Aku tersesat jauh sekali Kusangka dirimu mengejar kebahagiaan Rupanya hanya fatamorgana Dan juga kesengsaraan. Semakin jauh dari diri-Mu Semakin jauh dari ketenangan Hanya bersahabat dengan kegelisahan Dan Ambisi yang tak pernah padam. Kemana lagi kaki melangkah Sedangkan umur terus mengajar Raga semakin tergerus usia Tak lama lagi datang senja Kepada-Mu jua aku kembali Entah esok atau lusa Tak mampu aku kembali Kepada alam dunia. Selanjutnya Ramadhan Bikin Nangis Puisi Idul Fitri . . Meskipun dalam keadaan yang memprihatinkan, tetaplah kita bersyukur. Semoga kumpulan puisi ramadhan di atas, salah satu cara untuk menghibur.
puisi rumi tentang puasa